Selasa, 09 Oktober 2018

Apa Hubungan Antara Trah, Dinasti dan Wangsa itu ?

TRAH selain menjadi kata yang sering di gunakan dalam pergaulan sehari - hari, belakangan ini juga sering dipakai oleh banyak media dalam menyebarkan pemberitaannya. Menyimak kata TRAH ini mungkin saja tak banyak orang yang bisa menjelaskan pada mereka yang masih gagap mengartikannya.
Khususnya di lingkungan kota raja ( Keraton ), Alasannya karena memang istilah ini sejak dari dahulu akrab digunakan oleh keluarga raja ataupun keluarga ningrat.
Hanya saja saat ini sudah menjadi meluas, bukan saja keluar dari lingkungan Keraton, akan tetapi juga telah menjadi bagian dari Bahasa Indonesia.

KKBI 1988
Jika mengacu pada halaman KKBI tahun 1988, kata TRAH memiliki " lema " yang kurang lebih sama dengan " Wangsa ". Yaitu
1. Keturunan raja ; Keluarga raja.
2. Bangsa.
Seiring perkembangannya, yaitu yang berawal dari kerajaan Mataram Kuno dengan corak Hindu - Budha, istilah Wangsa itu sendiri digunakan untuk menyebut suatu Dinasti, bukan lagi TRAH.

Pengaruh Budaya
Mau mengakui ataupun tidak kerajaan - kerajaan di Nusantara ini memiliki pengaruh dari luar, entah dari Bangsa - bangsa Arab - Gujarat, India atau bahkan Negeri - negeri barat.

Budaya India
Pengaruh dari luar itu termasuk di dalamnya adalah kerajaan Mataram Kuno. Dan posisi Mataram Kuno yang sejak abad IX hingga abad XIV ini juga dipengaruhi oleh bangsa luar Nusantara, yaitu Bangsa India dengan budaya - budayanya.

Warisan Temurun
Dan menyimak sejarah pengaruh bangsa luar Nusantara tersebut, bukan tidak mungkin istilah " Wangsa " inipun dipengaruhi dan di wariskan dari budaya India. Sebagai salah satu bukti bisa kita temukan dari sisipan cerita Mahabharata, dimana dalam cerita Mahabharata yang kemudian di langgengkan melalui pertunjukan kesenian wayang itu, kita dapat mengejawantahkan sendiri arti dari kata " Wangsa " yang tak lain adalah kelompok besar dari satu keturunan pemegang kekuasaan. Serupa dengan " Dinasti ".
Wangsa Barata ataupun Wangsa Kuru, tak lain adalah Dinasti Barata ataupun Dinasti Kuru dan seterusnya.

Mataram Islam
Ketika pemerintahan berubah, penguasa pun berganti yang sering kita lihat tak lain adalah aturan - aturan baru sesuai apa yang berkuasa saat itu. Hal ini bukan saja terjadi pada masa kini, namun sejatinya juga telah berabad - abad lalu ada.

Darimana Asal Ungkapan TRAH ?
Sebagai bukti adalah saat Mataram Kuno sebagai kerajaan Hindu - Budha berganti menjadi Mataram Islam. Maka aturan mengenai terminologi " Wangsa " menjadi di mungkinkan sekali untuk berubah, yaitu menjadi TRAH. Hal ini tergambar dalam sebuah ungkapan yang akrab pada masa kerajaan Mataram Islam hingga kini, yaitu Trahing Kusuma, Rembesing Madu, Wijining Naratapa, Tedhaking Andana Warih, yang kurang lebihnya memiliki arti Keturunan bunga rembesan madu, benih pertapa, dan keturunan orang - orang besar.
Kalimat ungkapan diatas menjelaskan bahwa secara historis, awalnya penguasa Mataram Islam itu adalah keturunan orang - orang baik dan hebat.

Keluarga Besar
Pada perkembangannya, kata TRAH menjadi bisa lebih besar dan serupa dengan CLAN. Yaitu sebagai keluarga besar. Misalnya Trah Sonto Suro, memiliki definisi dari keluarga besarnya Sonto Suro, yaitu yang meliputi istri, anak, cucu, cicit, canggah, gantung - siwur dan seterusnya.
Dengan demikian bisa di simpulkan bahwa TRAH juga memiliki arti sebagai " Keluarga besar satu keturunan ". Sama sekali bukan keluarga kecil yang hanya terdiri dari satu kepala keluarga sendiri saja.

Makna Kebersamaan dan Solidaritas
Silsilah panjang dan jelas siapa moyangnya inilah yang menjadi dasar makna dari kata TRAH. Ini dilakukan bukan semata hendak menjaga eksistensi dari sebuah keluarga. Namun tetap ada nilai luhur yang termasuk di dalamnya. Sebagai contoh adalah agar sadar akan asal - usul sejarah keluarga, sehingga bisa membuat sadar diri akan kemampuan dan penghormatannya terhadap orang lain. Begitu pula dengan aspek kekeluargaan, gotong - royong, dan nilai solidaritas yang timbul darinya.
Artinya, di masa kini kita petik makna bahwa kata TRAH memiliki maksud agar dalam masa modern dan dipenuhi dengan segala macam kemajuan ini, jangan lantas kita hanya memikirkan diri sendiri saja, karena kita ini adalah makhluk Dualisme, yaitu makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Mandiri akan tetapi tidak juga bisa berdiri sendiri karena harus tetap selalu berdampingan dengan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar