Kamis, 11 Oktober 2018

Mutiara Silaturahmi

Surat An - Nisa' ayat 1
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-Mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki - laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan ( mempergunakan ) nama-NYA kamu saling meminta satu sama lain, dan ( peliharalah ) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

QS. Muhammad ayat 22
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ( silaturrahim ).

HR. Bukhari
Seorang yang menyambung silaturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.

HR. Ahmad
Sambunglah orang yang memutuskan ( hubungan denganmu ), berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu.

HR. Tirmidzi
Tidak ada dosa yang Allah SWT lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi.

HR. Ahmad
Sesungguhnya amal ibadah manusia di perlihatkan setiap hari kamis malam jum'at, maka tidak diterima amal ibadah orang yang memutuskan hubungan silaturahmi.

HR. Muslim
Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi.

HR. Bukhari dan Muslim
Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan ( silaturahmi ).

HR. Tirmidzi
Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala yaitu sedekah dan silaturahmi.

HR. Bukhari
Siapa yang bertakwa kepada Rabb-Nya dan menyambung silaturahmi niscaya umurnya akan di perpanjang dan hartanya akan di perbanyak serta keluarganya akan mencintainya.

.
.
.

Selasa, 09 Oktober 2018

Leluhur Eyang Sonto Suro

Leluhur Eyang Sonto Suro

0. Eyang Ageng Butuh
00. Eyang Nursamjoyo
000. Eyang Aminjoyo
0000. Eyang Lurah Wongso Harjo

00000. Eyang Sonto Suro


0. Eyang Ageng Butuh

Di suatu tempat yang semula berupa hutan yang lebat, konon sangat angker dan banyak dihuni berbagai macam binatang buas nuansa alamnya pun sangat angker, di tempat itu biasa disebut padukuhan Butuh. Di tempat tersebut tinggal seorang tokoh yang menjadi panutan masyarakat di sekitar padukuhan tersebut yaitu bernama Ki Ageng Butuh. Beliau adalah seorang Ki Ageng yang karismatik juga pandai dalam ilmu agama, beladiri dan ahli dalam bidang pertanian. Maka tidak aneh bila masyarakat di Butuh kehidupannya maju pesat, tentram dan damai di bawah pimpinan beliau. Banyak orang bertanya siapakah sebenarnya Ki Ageng Butuh itu ?

Konon ada suatu kisah dimana setelah Kerajaan Majapahit runtuh, banyak keturunan raja dari kerajaan tersebut cerai berai. Salah satunya adalah Ki Ageng Pengging atau Pangeran Handayaningrat, yang menetap di daerah Pengging yang memiliki tiga anak, yaitu Ki Kebo Kanigoro, Ki Kebo Kenanga. Salah satu anak Ki Ageng Pengging yaitu Ki Kebo Kenanga adalah seorang pemimpin yang bijaksana, cerdas serta terampil dalam bidang apa saja termasuk bidang pertanian, pemerintahan lebih - lebih bidang keagamaan yakni agama Islam. Yang mana beliau adalah salah satu murid kesayangan dari Syech Siti Jenar. Karena kepiawaian beliau dalam memimpin daerah dan banyaknya pengikut ajaran agamanya. Maka Sultan di Demak Bintoro khawatir bilamana menjadi pesaingnya di dalam memerintah  di Tanah Jawa. Kemudian Sultan Demak mengutus Patih Wanasalam untuk menghadapkan Ki Kebo Kenanga di Keraton Demak, namun tidak berhasil. Akhirnya Kanjeng Sultan mengutus Sunan Kudus bersama ketujuh anak buahnya untuk mendatangi kembali Ki Kebo Kenanga di Pengging. Dengan mandat Kanjeng Sultan " Bilamana Kebo Kenanga tidak mau sowan ke Demak maka Purbawasesa di tangan kedua Sunan tersebut ( di izinkan untuk membunuhnya ) ".

Dalam pertemuan itu terjadi dialog yang alot antara Ki Kebo Kenanga dengan Sunan Kudus, sampai - sampai Sunan Kudus sempat marah mengancam untuk membunuh Ki Kebo Kenanga. Akhirnya dari dialog itu di sepakati Ki Kebo Kenanga tidak dihukum melainkan dia diminta untuk mengasingkan diri pergi dari bumi perdikan dengan menghilangkan nama sebenarnya. Tetapi Ki Kebo Kenanga punya permintaan bahwa bayi yang sedang di dalam kandungan istrinya kelak kalau sudah besar harus menjadi seorang raja di Tanah Jawa. Permintaan tersebut di setujui oleh Sunan Kudus dan ia berjanji, ia sendiri yang akan mendidik dan membimbing anak Ki Kebo Kenanga hingga menjadi raja.

Kemudian Ki Kebo Kenanga beserta istri dan murid - muridnya yang setia mengasingkan diri meninggalkan perdikan Pengging menuju ke arah timur tepatnya di Dukuh Butuh, Desa Gedongan, termasuk wilayah Sragen yang letaknya di kecamatan Plupuh.

Ketika Ki Ageng Pengging ( Ki Kebo Kenanga ) menetap di daerah tersebut, sambil melanjutkan mengajar ilmu keagamaan dan ilmu - ilmu yang lain pada murid dan masyarakat setempat. Sesuai dengan kesepakatan Sunan Kudus beliau sengaja menyembunyikan jati dirinya dan berganti nama Ki Ageng Butuh.

Sumber ; Perpustakaan Sragen

00. Eyang Nursamjoyo

000. Eyang Aminjoyo

0000. Eyang Lurah Wongso Harjo

00000. Eyang Sonto Suro


Apa Hubungan Antara Trah, Dinasti dan Wangsa itu ?

TRAH selain menjadi kata yang sering di gunakan dalam pergaulan sehari - hari, belakangan ini juga sering dipakai oleh banyak media dalam menyebarkan pemberitaannya. Menyimak kata TRAH ini mungkin saja tak banyak orang yang bisa menjelaskan pada mereka yang masih gagap mengartikannya.
Khususnya di lingkungan kota raja ( Keraton ), Alasannya karena memang istilah ini sejak dari dahulu akrab digunakan oleh keluarga raja ataupun keluarga ningrat.
Hanya saja saat ini sudah menjadi meluas, bukan saja keluar dari lingkungan Keraton, akan tetapi juga telah menjadi bagian dari Bahasa Indonesia.

KKBI 1988
Jika mengacu pada halaman KKBI tahun 1988, kata TRAH memiliki " lema " yang kurang lebih sama dengan " Wangsa ". Yaitu
1. Keturunan raja ; Keluarga raja.
2. Bangsa.
Seiring perkembangannya, yaitu yang berawal dari kerajaan Mataram Kuno dengan corak Hindu - Budha, istilah Wangsa itu sendiri digunakan untuk menyebut suatu Dinasti, bukan lagi TRAH.

Pengaruh Budaya
Mau mengakui ataupun tidak kerajaan - kerajaan di Nusantara ini memiliki pengaruh dari luar, entah dari Bangsa - bangsa Arab - Gujarat, India atau bahkan Negeri - negeri barat.

Budaya India
Pengaruh dari luar itu termasuk di dalamnya adalah kerajaan Mataram Kuno. Dan posisi Mataram Kuno yang sejak abad IX hingga abad XIV ini juga dipengaruhi oleh bangsa luar Nusantara, yaitu Bangsa India dengan budaya - budayanya.

Warisan Temurun
Dan menyimak sejarah pengaruh bangsa luar Nusantara tersebut, bukan tidak mungkin istilah " Wangsa " inipun dipengaruhi dan di wariskan dari budaya India. Sebagai salah satu bukti bisa kita temukan dari sisipan cerita Mahabharata, dimana dalam cerita Mahabharata yang kemudian di langgengkan melalui pertunjukan kesenian wayang itu, kita dapat mengejawantahkan sendiri arti dari kata " Wangsa " yang tak lain adalah kelompok besar dari satu keturunan pemegang kekuasaan. Serupa dengan " Dinasti ".
Wangsa Barata ataupun Wangsa Kuru, tak lain adalah Dinasti Barata ataupun Dinasti Kuru dan seterusnya.

Mataram Islam
Ketika pemerintahan berubah, penguasa pun berganti yang sering kita lihat tak lain adalah aturan - aturan baru sesuai apa yang berkuasa saat itu. Hal ini bukan saja terjadi pada masa kini, namun sejatinya juga telah berabad - abad lalu ada.

Darimana Asal Ungkapan TRAH ?
Sebagai bukti adalah saat Mataram Kuno sebagai kerajaan Hindu - Budha berganti menjadi Mataram Islam. Maka aturan mengenai terminologi " Wangsa " menjadi di mungkinkan sekali untuk berubah, yaitu menjadi TRAH. Hal ini tergambar dalam sebuah ungkapan yang akrab pada masa kerajaan Mataram Islam hingga kini, yaitu Trahing Kusuma, Rembesing Madu, Wijining Naratapa, Tedhaking Andana Warih, yang kurang lebihnya memiliki arti Keturunan bunga rembesan madu, benih pertapa, dan keturunan orang - orang besar.
Kalimat ungkapan diatas menjelaskan bahwa secara historis, awalnya penguasa Mataram Islam itu adalah keturunan orang - orang baik dan hebat.

Keluarga Besar
Pada perkembangannya, kata TRAH menjadi bisa lebih besar dan serupa dengan CLAN. Yaitu sebagai keluarga besar. Misalnya Trah Sonto Suro, memiliki definisi dari keluarga besarnya Sonto Suro, yaitu yang meliputi istri, anak, cucu, cicit, canggah, gantung - siwur dan seterusnya.
Dengan demikian bisa di simpulkan bahwa TRAH juga memiliki arti sebagai " Keluarga besar satu keturunan ". Sama sekali bukan keluarga kecil yang hanya terdiri dari satu kepala keluarga sendiri saja.

Makna Kebersamaan dan Solidaritas
Silsilah panjang dan jelas siapa moyangnya inilah yang menjadi dasar makna dari kata TRAH. Ini dilakukan bukan semata hendak menjaga eksistensi dari sebuah keluarga. Namun tetap ada nilai luhur yang termasuk di dalamnya. Sebagai contoh adalah agar sadar akan asal - usul sejarah keluarga, sehingga bisa membuat sadar diri akan kemampuan dan penghormatannya terhadap orang lain. Begitu pula dengan aspek kekeluargaan, gotong - royong, dan nilai solidaritas yang timbul darinya.
Artinya, di masa kini kita petik makna bahwa kata TRAH memiliki maksud agar dalam masa modern dan dipenuhi dengan segala macam kemajuan ini, jangan lantas kita hanya memikirkan diri sendiri saja, karena kita ini adalah makhluk Dualisme, yaitu makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Mandiri akan tetapi tidak juga bisa berdiri sendiri karena harus tetap selalu berdampingan dengan orang lain.

Minggu, 07 Oktober 2018

Silsilah Trah Sonto Suro

" SILSILAH TRAH SONTO SURO "

[1.] Sonto Kiman & Sati ( Anak )
1.1 Kasimin & Satiyem ( Putu )
1.1.1 Sadi Hadi Mulyono ( Buyut )
1.1.1.1 Dina Aprilia S. ( Canggah )
1.1.1.2 Fatma Nur Aini ( Canggah )

1.1.2 Fitri Wulandari ( Buyut )
1.1.2.1 Nuraini ( Canggah )
1.1.2.2 Yogi Prasetyo ( Canggah )

1.1.3 Wiwik Yulaikah & Purwanto ( Buyut )
1.1.3.1 Nanang Bagus Waluya ( Canggah )
1.1.3.2 Salsabilla Nur Rahayu ( Canggah )
1.1.3.3 Aiza Eliana Qanita ( Canggah )

1.1.4 Tentrem Wahyuni & Aris setiawan ( Buyut )
1.1.4.1 Ari Wahyu Saputra ( Canggah )

1.2 Suginem & Paidi ( Putu )
1.3 Sumadi & ... ( Putu )
1.4 Suminem & ... ( Putu )
1.5 Kadimin & ... ( Putu )

1.6 Samiyati & Winarto ( Putu )
1.6.1 Ely Nur Jannah ( Buyut )
1.6.1.1 Danis ( Canggah )

1.6.2 Dwi Mulyani ( Buyut )
1.6.2.1 Syifa Khumairah hamka ( Canggah )

1.6.3 Januri ( Buyut )

1.7 Satimin & Leginah ( Putu )

[2.] Kamad ( Anak )
[3.] Jinem Sutorejo & Sukirman ( Anak )
3.1 Armin Ariyanto & Suprapti ( Putu )
3.1.1 Rivaldo Orlando & Indah R. ( Buyut )
3.1.2 Sukma Sekar M. ( Buyut )
3.1.3 Gayuh Lanang Jati ( Buyut )

[4.] Sastro Mikam & Sumiyem ( Anak )
4.1 Suwarsi & Cipto winarno ( Putu )
4.1.1 Suharno & Endah ( Buyut )

4.1.2 Trianto & Yeni ( Buyut )
4.1.2.1 Kakai ( Canggah )
4.1.2.2 Ayya ( Canggah )

4.2 Sri Haruni & Noto Suwarno ( Putu )
4.2.1 Hepi Sari & Dewa ( Buyut )
4.2.1.1 Zaki ( Canggah )

4.2.2 Elsafa Yasinta ( Buyut )

4.3 Sihono & Maria Ulfa ( Putu )
4.3.1 Atma ( Buyut )
4.3.2 Arya ( Buyut )

4.4 Anik S & Anang K ( Putu )
4.4.1 Oda Pradana ( Buyut )
4.4.2 Aditya Naufal ( Buyut )

[5.] Sukadi / Darso Wiyono & Sujiyem ( Anak )
5.1 Sugimin,SH & Sri Sulistiyowati ( Putu )
5.1.1 Syifa Khairunnisa ( Buyut )
5.1.2 Zahra Fauziyyah ( Buyut )
5.1.3 Annisa Nurul Fakhriyah ( Buyut )
5.1.4 Salsabila Ramadhan ( Buyut )

5.2 Said Sukrisno & Murtini ( Putu )
5.2.1 Asti Sukrisno Dewi ( Buyut )
5.2.2 Lidya Dwi Astuti ( Buyut )
5.2.3 Tika Tri Anggraeni ( Buyut )

5.3 Sutrisno & Miftakhul Jannah ( Putu )
5.3.1 M. Ilham Fauzi ( Buyut )
5.3.2 Aina Salma Namifa ( Buyut )
5.3.3 Aina Salwa Namita ( Buyut )

5.4 Adi Fitria Hanan & Sri Sukarmi ( Putu )
5.4.1 Abu Aizhar Raihan Ardian ( Buyut )
5.4.2 Asylla Qurrotul Aini ( Buyut )

[6.] Sis Suki & Sani ( Anak )
6.1 Sri & Sutopo ( Putu )
6.1.1 Ali & Nevi ( Buyut )
6.1.1.1 Nabila ( Canggah )

6.1.2 Sigit ( Buyut )
6.1.3 Anna ( Buyut )

6.2 Sar & Tanti ( Putu )
6.2.1 Faisal ( Buyut )
6.2.2 Fiki ( Buyut )
6.2.3 Shofi ( Buyut )
6.2.4 Salsa ( Buyut )

6.3 Marni & Slamet ( Putu )
6.3.1 Mia ( Buyut )
6.3.2 Fani ( Buyut )
6.3.3 Dhani ( Buyut )

6.4 Giman & Apit ( Putu )
6.4.1 Fahmi ( Buyut )
6.4.2 Riki ( Buyut )

6.5 Ning & Udin ( Putu )
6.5.1 Lutfi ( Buyut )
6.5.2 Noval ( Buyut )

[7.] Mardi Mitro Handoko & Sulinem ( Anak )
7.1 Suwarno & Sri ( Putu )
7.1.1 Rihuda Mawar R & Sarwono ( Buyut )
7.1.1.1 Faris ( Canggah )

7.1.2 Diah Mawar S. ( Buyut )
7.1.3 Siti Maymudah ( Buyut )
7.1.4 Umi ( Buyut )
7.1.5 Husein ( Buyut )
7.1.6 Okha ( Buyut )

7.2 Sihono & Rumiyati ( Putu )
7.2.1 Alim ( Buyut )
7.2.2 Makruf ( Buyut )
7.2.3 Khoti ( Buyut )

7.3 Sumarno & Ayuk ( Putu )
7.3.1 Zidan ( Buyut )

7.4 Sunarti / Kus & Winarno ( Putu )
7.4.1 Irfan ( Buyut )
7.4.2 Zahra ( Buyut )

7.5 Purwanti & Syamsuri ( Putu )
7.5.1 Layli ( Buyut )
7.5.2 Siti ( Buyut )

7.6 Sutrisno & Eka ( Putu )
7.6.1 Mahfud ( Buyut )

[8.] Sutar & Sadinem ( Anak )
8.1 Sarjono & Titik ( Putu )
8.1.1 Roni ( Buyut )
8.1.2 Sendy ( Buyut )

8.2 Heni & Syarif ( Putu )
8.2.1 Alex ( Buyut )
8.2.2 Cindy ( Buyut )

8.3 Samidi & Sugiyarti ( Putu )
8.3.1 Vilsa ( Buyut )

8.4 Sri Hartini & Nanang ( Putu )
8.4.1 Angga ( Buyut )
8.4.2 Qiarra ( Buyut )

8.5 Sri Narti & Suyanto ( Putu )
8.5.1 Asiva Dewi Riyana ( Buyut )
8.5.2 Firya Ramadhani ( Buyut )

[9.] Narso & Warsi ( Anak )
9.1 Fitri Ambarwati Astuti ( Putu )
9.2 Siswi Handayani & Eko Agus Sunarno ( Putu )
9.2.1 Riani Agustin Setya W. ( Buyut )

9.3 Lutfi Kholilul Rahman ( Putu )

[10.] Sumiyati & Parmidi ( Anak )
10.1 Sri Widodo & Febriana ( Putu )
10.1.1 Ryan Aufa Zay E. ( Buyut )
10.1.2 Aqila Ranum ( Buyut )

10.2 Samsudin ( Putu )